Sebuah lyric lagu BANDOSO yang berisi metafora dari mahluk ciptaan Sang Penguasa alam semesta... Malaikat.
Mendeskripsikan
malaikat sebagai The Troops of The Universe tentunya karena sifatnya yg
sangat tunduk dan patuh akan perintah Sang Pemegang Kekuasaan Tertinggi
dan Tunggal yg termaktub dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara 'Arsy.
Terbuat
dari Nur, Cahaya. Sebuah entitas yang sangat-sangat lembut, tanpa
massa, dan memiliki frekuensi yg sangat stabil. Sangat memungkinkan
dirinya itu untuk menjadi penghantar gelombang elektromagnetik yang
sangat valid dan sempurna dari Sang Penguasa Tunggal yang berupa
kode-kode berupa perintah atau berupa pesan, tanpa ada kode yg berkurang
sedikitpun. Dan karena Cahaya itu tanpa massa dan super halus, maka
sanggup menghantarkan kode dari Sang Maha Kuasa sampai menembus
sudut-sudut terjauh alam semesta bahkan sampai setitik debu yang paling
kecil.
Dan
inilah kenapa alam semesta selalu harmoni, dari pergerakan planet tata
surya, sampai hal terkecil seperti jatuhnya setitik embun pagi ke tanah
yang menempel dari daun di pohon depan rumah. Semua dalam harmonisasi
penjagaan The Troops of The Universe.
Lalu apakah cuma Malaikat yg bisa disebut sbg The Troops of The Universe?
Sebutan The Troops of The Universe berlaku
juga kepada Manusia bumi. Manusia yang secara fisik sudah pasti berbeda
dgn Malaikat. Namun dalam dada manusia ada hati yg berfungsi sebagai
radar dalam menangkap frekuensi pancaran gelombang elekromagnetic dari
Sang Penguasa. Manusia yang sering lelaku atau melakukan tirakat dalam
kesehariannya akan mampu menyamakan frekuensi di hati dgn frekuensi
cahaya, sehingga radarnya memiliki kemampuan menangkap kode-kode yg
memuat pesan dari Sang Penguasa Tunggal dan memanifestasikan dalam
kehidupan sehari-hari, sehingga setiap hari itu tidak ada 'aku' lagi tapi 'dia'. Itulah Manusia Cahaya, manusia yang hidupnya seperti malaikat, dalam frekuensi Cahaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar