Kamis, 13 Desember 2012

The Troops of The Universe

Sebuah lyric lagu BANDOSO yang berisi metafora dari mahluk ciptaan Sang Penguasa alam semesta... Malaikat.
Mendeskripsikan malaikat sebagai The Troops of The Universe tentunya karena sifatnya yg sangat tunduk dan patuh akan perintah Sang Pemegang Kekuasaan Tertinggi dan Tunggal yg termaktub dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara 'Arsy.
Terbuat dari Nur, Cahaya. Sebuah entitas yang sangat-sangat lembut, tanpa massa, dan memiliki frekuensi yg sangat stabil. Sangat memungkinkan dirinya itu untuk menjadi penghantar gelombang elektromagnetik yang sangat valid dan sempurna dari Sang Penguasa Tunggal yang berupa kode-kode berupa perintah atau berupa pesan, tanpa ada kode yg berkurang sedikitpun. Dan karena Cahaya itu tanpa massa dan super halus, maka sanggup menghantarkan kode dari Sang Maha Kuasa sampai menembus sudut-sudut terjauh alam semesta bahkan sampai setitik debu yang paling kecil.
Dan inilah kenapa alam semesta selalu harmoni, dari pergerakan planet tata surya, sampai hal terkecil seperti jatuhnya setitik embun pagi ke tanah yang menempel dari daun di pohon depan rumah. Semua dalam harmonisasi penjagaan The Troops of The Universe.
Lalu apakah cuma Malaikat yg bisa disebut sbg The Troops of The Universe?
Sebutan The Troops of The Universe berlaku juga kepada Manusia bumi. Manusia yang secara fisik sudah pasti berbeda dgn Malaikat. Namun dalam dada manusia ada hati yg berfungsi sebagai radar dalam menangkap frekuensi pancaran gelombang elekromagnetic dari Sang Penguasa. Manusia yang sering lelaku atau melakukan tirakat dalam kesehariannya akan mampu menyamakan frekuensi di hati dgn frekuensi cahaya, sehingga radarnya memiliki kemampuan menangkap kode-kode yg memuat pesan dari Sang Penguasa Tunggal dan memanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga setiap hari itu tidak ada 'aku' lagi tapi 'dia'. Itulah Manusia Cahaya, manusia yang hidupnya seperti malaikat, dalam frekuensi Cahaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar